Drama Audit Keuangan BUM Desa (Cerita tentang Filosofi Shorof Part 2)
Audit Eksistensi: Membongkar Topeng di Balik Selisih Kas BUM Desa
Ketegangan di ruang rapat BUM Desa malam itu bisa dipotong dengan pisau. Tiga hari
lagi, tim Inspektorat Daerah akan datang untuk melakukan audit tahunan.
Masalahnya satu, tapi fatal: ditemukan selisih angka yang cukup besar antara
saldo Buku Kas Umum (BKU) manual dengan rekening koran bank. Uangnya fisik
tidak ada, tapi di catatan menggantung.
Dalam situasi krisis seperti ini, ruang rapat
mendadak berubah menjadi panggung pertunjukan. Watak asli manusia—yang selama
ini tersembunyi di balik jabatan—mulai keluar satu per satu, persis seperti
karakter Bina' dalam ilmu shorof saat mendeteksi letak
penyakit ('illah).
Miftah (Bina’ Mitsal) langsung
menggebrak meja. Bicaranya kasar, tanpa basa-basi, dan sama sekali tidak punya
sopan santun di depan forum. "Kalian ini kerja pakai apa?! Angka jutaan
bisa menguap begitu saja dan baru diributkan sekarang? Kalau tidak becus pegang
pembukuan, bilang!"
Sikap Miftah di panggung depan memang menjengkelkan
dan membuat seisi ruangan telinga merah. Namun, ketika Sholeh (Bina’
Shohih) selaku ketua mengecek buku kas unit produksi yang dipegang
Miftah, datanya bersih tanpa cela. Nota fisik, keluar masuk material, hingga
retur barang dicatat jujur apa adanya di panggung belakang. Miftah punya
penyakit di mulut (depan), tapi hati dan tanggung jawabnya steril dari korupsi.
Kondisi ini kontras dengan Arif (Bina’ Ajwaf)
dan Naufal (Bina’ Naqish). Dua orang ini mendadak menunjukkan
performa pencitraan yang luar biasa. Arif sibuk membolak-balik bundel kuitansi
lama di depan meja Sholeh, memperlihatkan gestur seolah dialah yang paling
pusing memikirkan nasib BUM Desa, padahal hatinya hanya panik
takut ikut terseret.
Sementara Naufal, yang di awal proyek selalu
sesumbar bahwa sistemnya aman, sekarang sibuk membangun narasi defensif.
"Wah, ini pasti karena sistem manual kita yang eror, atau mungkin banknya
yang salah input data. Kita kan sudah kerja maksimal," ujar Naufal,
mencoba mengamankan nama baiknya di depan publik sebelum kapal ini karam.
Mereka manis di depan, tapi keropos di dalam dan gembos di akhir tanggung
jawab.
Tiba-tiba terdengan gebrakan
meja yang tak kalah keras dibandingkan Miftah. Yaitu Fikri (Bina’ Lafif Mafruq)—yang
memiliki penyakit di depan dan dibelakang—yang juga naik pitam melihat gerak
gerik Arif dan Naufal. “kalian berdua yang bertanggung jawab keluar masuknya
barang, nota dan kwitansi. Kalian harus bertanggung jawab!”. Bentaknya kepada
Arif dan Naufal, karena Fikri tau Arif dan Naufal ahli dalam hal pencitraan.
Di tengah kepanikan itu,
tampil Wafi (Bina’ Lafif Maqrun)—yang notabene memiliki huruf
illah pada ‘ain dan lam fi’il (tengah dan belakang)—selaku
bendahara utama. Wafi adalah antitesis dari Miftah. Tutur katanya
sangat santun, tenang, dan pembawaannya berwibawa. Dia tersenyum bijak
menenangkan forum.
"Teman-teman, tolong tenang. Jangan saling
menuduh tanpa bukti. Kita ini keluarga," kata Wafi dengan nada teduh yang
membuat semua orang langsung bersimpati padanya. "Begini saja, agar
Inspektorat tidak mempermasalahkan ini, serahkan berkasnya kepada saya. Malam
ini saya bersedia lembur sendirian di kantor untuk 'merapikan' susunan
laporannya secara manual agar besok pagi angkanya sudah klop."
Semua orang bernapas lega dan memuji kebaikan Wafi.
Namun, Sholeh tidak mau gegabah. Sebagai figur yang memegang prinsip Shohih,
dia tahu akuntansi tidak mengenal kompromi "merapikan laporan secara
manual" di tengah malam.
Begitu rapat diskors dan Wafi mulai bekerja
sendirian di komputer kantor, Sholeh diam-diam masuk ke sistem log transaksi
digital perbankan yang terintegrasi. Di sinilah plot twist itu terbuka.
Wafi—si bendahara santun yang tampak sangat
protektif di depan forum—ternyata adalah seorang Lafif Maqrun sejati. Dia memalsukan sikap
sosialnya di depan, dan menyimpan niat jahat yang rapi di panggung belakang bersama dengan Fikri (Lafif Mafruq).
Melalui celah pencatatan manual yang belum tersistem, Wafi dan Fikri bekerja sama dengan
sengaja mengaburkan beberapa transaksi riil. Rencana lemburnya malam itu bukan
untuk mencari kebenaran, melainkan untuk menghapus jejak digital pembagian arus
kas tersembunyi yang dia alirkan ke rekening vendor fiktif miliknya sendiri untuk dibagi dengan Fikri.
Mereka
mengkhianati seluruh tim tepat di ujung cerita (lam fi'il), di saat
semua orang sudah memercayainya.
Ruang
Diskusi
Cerita BUM Desa di atas memberikan kita
pelajaran akuntansi sekaligus pelajaran hidup yang mahal. Sering kali dalam
dunia nyata, kita begitu mudah tertipu oleh kemasan. Kita menghakimi orang yang
bicaranya kasar dan tidak tahu sopan santun (seperti Miftah), padahal dia yang
paling jujur menjaga aset di belakang layar.
Sebaliknya, kita begitu mudah menyerahkan kepercayaan
kepada mereka yang bermulut manis, santun, dan pandai menenangkan forum, tanpa
sadar bahwa mereka sedang menyusun rencana manipulasi di belakang kita.
Dalam dunia profesional atau organisasi yang pernah
Anda ikuti, apakah Anda pernah bertemu dengan karakter fungsional yang pandai
memalsukan panggung depannya seperti bendahara di atas? Dan seberapa krusial
menurut Anda peran sistem pencatatan yang transparan untuk mengunci ruang-ruang
manipulasi karakter seperti ini?
Mari kita bagikan perspektif dan diskusi sehat di
kolom komentar!

Komentar
Posting Komentar