Drama di Warung Kopi (Cerita tentang Filosofi Shorof)

Drama di Warung Kopi: Ketika 6 Karakter Shorof Mengisi Satu Meja


Malam itu, sudut warung kopi Pak Kumis agak lebih bising dari biasanya. Enam orang pemuda desa sedang berkumpul di satu meja panjang. Agendanya konkret: membahas rencana renovasi mushola yang atapnya mulai bocor.

Tapi seperti biasa, menyatukan kepala manusia itu tidak pernah sesederhana membalik telapak tangan. Kalau kita perhatikan baik-baik lewat kacamata Ilmu Shorof, malam itu kita seperti sedang melihat replika dari struktur Bina' yang menjelma menjadi watak manusia.

Di ujung meja, duduklah Sholeh (Bina’ Shohih). Sejak awal rapat dibuka, Sholeh bertindak sebagai penengah. Orangnya lurus, bicaranya jujur apa adanya, dan keputusannya selalu konsisten. "Intinya, kita butuh dana 15 juta. Kas mushola ada 5 juta, sisanya kita cari bareng-bareng. Yang penting transparan," ujar Sholeh tenang. Struktur dirinya kokoh, bersih dari intrik, persis seperti Bina' Shohih yang tidak punya huruf penyakit di dalam kalimatnya. Manusia yang konsisten dan istiqomah dari awal hingga akhir.

Tiba-tiba, Miftah (Bina’ Mitsal) menyela dengan nada ketus. "Eits, tunggu dulu Leh! 15 juta itu gak realistis. Nyari ke mana kekurangannya? Zaman lagi susah begini, jangan bikin program yang muluk-muluk lah, nanti malah mangkrak!" Miftah ini tipikal orang yang selalu melempar resistensi dan keraguan di awal langkah. Sifatnya kaku di depan, persis huruf illah yang bertamu di fa' fi'il (awal kata/huruf pertama). Tapi semua orang di meja itu tahu, kalau Miftah sudah sepakat dan melangkah, dia akan jadi orang yang paling loyal bekerja sampai selesai. Dia cuma punya "penyakit" di garis start. Dia adalah manusia paling pesimis dan selalu skeptis, tapi ketika sudah terlanjur memulai dialah yang paling dapat diandalkan hingga akhir.

Di sebelah Miftah, duduklah Arif (Bina’ Ajwaf). Sepanjang perdebatan, Arif lebih banyak diam, memandangi cangkir kopinya yang tinggal setengah. Dari luar, Arif terlihat sangat bijak dan tenang, seolah sedang merenungkan konsep arsitektur mushola. Tapi sebenarnya, pikiran Arif sedang melayang ke tempat lain. Di dalam hatinya ada ruang kosong yang sedang galau memikirkan masalah pribadinya yang belum selesai. Dia tampak utuh di luar, tapi ada "rongga" yang goyang di tengah dirinya, mirip Bina' Ajwaf yang huruf tengahnya harus mengalah karena rapuh. Over thinking adalah kata yang tepat untuk Arif (Bina’ Ajwaf). Selama kegalauannya belum usai, dia akan terus seperti itu. Menggunakan senyuman palsu untuk menutupi penyakit didalam dirinya. Ekspresi dan hatinya tak pernah selaras. Itulah Ajwaf.

"Bener kata Sholeh, kita harus optimis!" Naufal (Bina’ Naqish) tiba-tiba menggebrak meja dengan penuh semangat. "Gini aja, besok kita bikin pamflet digital, kita sebar ke alumni-alumni desa yang sudah sukses di kota. Saya yang tanggung jawab bikin desain dan konsepnya. Pokoknya minggu depan dana harus terkumpul!" Naufal adalah tipe penggagas yang luar biasa. Semangatnya membakar ruangan. Sayangnya, Sholeh hanya tersenyum maklum. Sholeh tahu betul, Naufal adalah tipe yang hangat-hangat kuku. Idenya menggebu-gebu di awal rapat, tapi biasanya, begitu proyek berjalan setengah jalan dan memasuki bagian-bagian teknis akhir yang melelahkan, Naufal akan kehilangan bensin dan menghilang pelan-pelan. Dia melemah di ujung jalan, seperti Bina' Naqish yang menyimpan huruf penyakit di akhir katanya.

Sementara itu, di pojok meja, ada Qori (Bina’ Lafif Maqrun). Qori ini tipe pengikut setia yang emosinya sangat tergantung pada siapa dia duduk. Ketika Naufal bersemangat, Qori ikut mengangguk-angguk antusias. Begitu Miftah mulai pesimis, wajah Qori ikut berubah cemas. Sifat dan pendiriannya selalu menempel rapat dengan dinamika orang-orang di sekitarnya, seperti dua huruf illah yang letaknya berdampingan tanpa jarak. Dialah representasi manusia labil tanpa pendirian.

Dan terakhir, agak mengambil jarak dari kursi yang lain, duduklah Wafi (Bina’ Lafif Mafruq). Wafi mendengarkan semuanya sambil sibuk dengan ponselnya. Dia tidak mau terlalu terlibat emosi dengan perdebatan di depan (seperti Miftah), dan dia juga tidak peduli dengan urusan internal di belakang meja. Wafi menetapkan batas yang jelas antara panggung depan dan panggung belakangnya sendiri, terpisah oleh jarak yang aman, layaknya Bina' Lafif Mafruq yang huruf penyakitnya terbelah di awal dan di akhir. Dia adalah representasi dari manusia yang mencari amannya sendiri.

Rapat malam itu akhirnya ditutup dengan kesepakatan awal berkat ketegasan Sholeh. Mereka bubar dengan membawa wataknya masing-masing.


Ruang Diskusi

Menyaksikan interaksi di warung kopi malam itu membuat saya sadar. Dalam sebuah tim, organisasi, atau lingkungan sosial, kita tidak bisa berharap semua orang bergerak seideal Bina’ Shohih.

Ada orang yang harus kita maklumi kekasaran awalnya karena kita tahu hatinya tulus (Mitsal). Ada yang harus kita rangkul karena diamnya menyimpan ruang sepi kegalauan (Ajwaf). Dan ada yang harus terus kita ingatkan agar tidak gembos di tengah jalan (Naqish). Perbedaan struktur inilah yang membuat dinamika kelompok menjadi hidup.

Kalau di dalam lingkaran pertemanan atau tim kerja Anda saat ini, karakter bertipe Bina' mana yang paling sering Anda jumpai dan bagaimana Anda menghadapinya?

Yuk, kita obrolkan pengalamannya di kolom komentar!

 

Komentar

Postingan Populer